Sastra Bandingan

Senin, 30 Januari 2012


PERBANDINGAN CERITA SANGKURIANG  DAN CERITA OEDIPUS

A.       PENDAHULUAN
Dalam khazanah kesusastraan bangsa-bangsa di dunia ditemukan begitu banyak karya dalam berbagai genre yang menunjukkan kesamaan-kesamaan. Kadang-kadang, kesamaan itu amat mengagetkan karena ternyata bukan saja menyangkut unsur-unsur tertentu di dalam teks, melainkan juga wujud teks secara keseluruhan. Seperti halnya kisah Oedipus (Yunani) dan Sangkuriang-Dayang Sumbi (Sunda), pada novel Madame Bovary karya Gustave Flaubert (Perancis) dan Belenggu karya Armijn Pane, atau pada novel pendek Qindil Umm Hasyim karya Yahya Hakki (Mesir) dan Song of Lawino & Song of Ocol karya Okot p’Bitek (Uganda).
Begitu banyak karya sastra yang pernah ditulis mengenai cinta. Sejak pertama kali manusia bisa menuangkan pikiran-pikiran dan perasaannya ke dalam lembaran-lembaran kertas, para pujangga di seluruh penjuru dunia telah mengukir syair-syair pujian mengenai kebahagiaan dan kesedihan akibat cinta. Di antara karya-karya tersebut, tentunya yang paling populer di seluruh dunia ialah drama Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Sekalipun dianggap paling populer di dunia, Romeo dan Juliet bukanlah satu-satunya kisah cinta yang dramatis; dalam kesusastraan Arab-Persia pun terdapat kisah serupa: Laila Majnun, syair gubahan Syaikh Nizami Ganjavi yang didasarkan pada legenda masyarakat Badui di jazirah Arab. Tidak terkecuali, di Pulau Jawa pun ada kisah tentang Sangkuriang.
Pada kesempatan kali ini akan dibahas perbandingan cerita Sangkuriang dengan cerita Oedipus. Dalam hal ini dipilih cerita Sangkuriang karena merupakan kisah yang berasal dari tanah Jawa sebagai objek pembelajaran yang sedang dikaji.

B.     PEMBAHASAN
1.      Cerita Sangkuriang
Pada Zaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.
Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.
Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya.  
Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.
Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat.
Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hutan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.
Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.
Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.
Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.
Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

2.      Cerita Oedipus
Oedipus adalah anak dari raja Laius dan ratu Jocasta. Sebelum dia lahir, kedua orang tuanya menemui Orakel di Delphi. Sang Orakel meramalkan bahwa raja Laius akan dibunuh oleh anaknya sendiri. Untuk mencegah agar ramalan ini tidak menjadi kenyataan, Laius memerintahkan untuk mengikat kaki Oedipus dan memakunya – dari sini termaknailah Oedipus sebagai “kaki bengkak”. Oedipus kemudian dibuang dari Thebes, akan tetapi seorang penggembala menemukannya dan membawanya ke Corinth untuk dipelihara oleh raja Polybus. Bertahun kemudian, seorang pemabuk memberitahunya bahwa Polybus, bukanlah ayah kandung Oedipus. Demi mencari kebenaran cerita itu, dia pergi menemui Orakel dan diberi tahu bahwa dia memang ditakdirkan untuk membunuh ayahnya dan mengawini ibunya. Dalam usahanya untuk menghindari takdir, dia pergi dari Corinth ke Thebes.
Dalam perjalanannya ke Thebes, dia tiba di persimpangan tiga jalan dimana dia bertemu dengan kereta kuda yang dikendarai oleh raja Laius. Laius memerintahkan Oedipus minggir dari jalan agar keretanya dapat lewat, tetapi Oedipus tidak mau menurutinya. Oedipus tidak mengenal Laius saat itu, akan tetapi keduanya terlibat dalam pertikaian dan berakhir dengan Oedipus membunuh Laius dalam perkelahian. Seperti ramalan sang Orakel, Oedipus membunuh ayahnya. Saat ia meneruskan perjalanannya ke Thebes, dia berjumpa dengan Sphinx. Sphinx menghentikan semua orang yang lewat jalan itu sambil memberinya sebuah teka teki. Jika para pengembara tersebut tidak dapat menjawab dengan benar, maka Sphinx akan memakan mereka, jika mereka berhasil, mereka dapat melanjutkan perjalanannya.Teka-tekinya adalah “ Apa yang berjalan dengan empat kaki di pagi, dua kaki di siang dan tiga kaki di sore hari ?”. Oedipus menjawab : “Manusia; saat kecil, manusia berjalan dengan empat kaki dan tangannya, saat dewasa berjalan dengan dua kakinya dan saat tua berjalan dengan tongkatnya”. Setelah mendengar jawaban Oedipus yang benar, si Sphinx bunuh diri. Karena berhasil membunuh Sphinx, Oedipus diangkat menjadi raja Thebes dan juga dinikahkan dengan janda raja Laius, Jacosta. Mereka mempunyai empat anak: dua laki-laki, Polynices dan Eteocles dan dua perempuan, Antigone dan Ismene.
Bertahun-tahun setelah perkawinan Oedipus dan Jacosta, sebuah wabah menyerang kota Thebes. Dalam arogansinya, Oedipus mengatakan akan mengakhiri bencana itu. Dia mengutus Creon, saudara Jocasta, untuk menemui Orakel di Delphi, guna mencari petunjuk. Saat Creon kembali, dia mengatakan bahwa pembunuh raja Laius harus ditemukan, pembunuh itu harus dibunuh atau diasingkan agar bencana tersebut lenyap dari Thebes. Untuk mencari pembunuh itu, Oedipus bertanya pada Tiresias, seorang peramal buta, tapi Tiresias mengingatkannya agar usahanya untuk mencari pembunuh Laius tidak diteruskan. Karena terjadi pertikaian antara keduanya, maka akhirnya Tiresias mengungkap bahwa pembunuh sebenarnya raja Laius adalah Oedipus. Pada saat yang sama, seorang pesuruh datang dari Corinth, dan mengabarkan bahwa Raja Polybus ,yang Oedipus anggap masih sebagai ayahnya, telah wafat. Utusan itu juga mengungkap bahwa Oedipus sebenarnya adalah anak angkat dari Polybus. Jocasta akhirnya menyadari identitas sebenarnya dari Oedipus, dia kemudian lari ke istana dan menggantung diri. Saat mendapati Jocasta telah tewas, Oedipus kemudian membutakan dirinya, dan pergi dari Thebes ditemani anaknya Antigone. Akhirnya dia meninggal di Colonus setelah mendapatkan perlindungan dari raja Theseus.
Kedua anak lelaki Oedisius, Eteocles dan Polynices berbagi kerajaan. Mereka memerintah bergantian setiap tahun. Akan tetapi saat tiba giliran Eteocles memerintah kerajaan, Polynices menolak menyerahkan tahtanya. Terjadilah peperangan yang diakhiri dengan kedua saudara tersebut saling bunuh. Creon, saudara Jocasta menggantikan mereka menjadi raja, dia memutuskan bahwa Polynices adalah seorang pengkhianat dan tidak diperbolehkan untuk dikuburkan. Antigone yang tidak menerima keputusan ini, berusaha menguburkan Polynices, tetapi Creon akhirnya membunuhnya juga.

3.   Perbandingan Cerita Sangkuriang dan Oedipus
Dalam khazanah kesusastraan bangsa-bangsa di dunia ditemukan begitu banyak karya dalam berbagai genre yang menunjukkan kesamaan-kesamaan. Kadang-kadang, kesamaan itu amat mengagetkan karena ternyata bukan saja menyangkut unsur-unsur tertentu di dalam teks, melainkan juga wujud teks secara keseluruhan. Untuk yang pertama, kita tentunya akan teringat pada kisah Oedipus (Yunani) dan Sangkuriang-Dayang Sumbi (Sunda), pada novel Madame Bovary karya Gustave Flaubert (Perancis) dan Belenggu karya Armijn Pane. Kita jua menemukan kemiripan kisah dalam cerita-cerita silat Jawa karangan S.H. Mintaredja dengan cerita silat Tiongkok karangan Jin Yong, atau puisi-puisi haiku Jepang dengan puisi tradisional Bugis, elang.
Banyak peneliti dan pemerhati sastra yang memberikan perhatian khusus terhadap gejala literer semacam ini. Dari telaah-telaah bandingan yang berhasil dilakukan, paling tidak muncul tiga teori yang bersangkut paut dengan gejala tersebut. Teori pertama mengatakan bahwa kesamaan dimungkinkan oleh adanya proses migrasi, teori kedua oleh adanya pengaruh-memengaruhi, dan teori ketiga tidak bersinggungan dengan yang pertama dan kedua, tetapi karena sifat “kebetulan” semata. Untuk teori yang ketiga, dijelaskan bahwa manusia, di mana pun ia berada, pada hakikatnya senantiasa menghadapi persoalan kemanusiaan yang sama dalam hidupnya-pencarian Tuhan, makna cinta, keadilan, kematian, dan sebagainya. Jadi, ketika merasa perlu untuk “mengabadikan” persoalan yang dianggap genting itu, boleh jadi ia akan mengekspresikannya dalam wujud yang lebih kurang sama. Karena itu, misalnya, tidaklah mengherankan bila pengagungan manusia atas cinta di berbagai tempat, zaman, dan kebudayaan yang berjauhan kemudian melahirkan kisah dramatik Romeo dan Juliet (Inggris/Eropa), Laila Majnun (Arab-Persia), Sam-pek Eng-tay (Tiongkok), dan Roro Mendut-Pronocitro (Jawa) yang, jika dilihat dari banyak segi, memperlihatkan begitu banyak kesamaan. Hingga kini pun, kiranya masih terlampau sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa kisah-kisah itu berasal dari induk yang sama atau, paling tidak, wujud karya yang satu dipengaruhi oleh karya lainnya.
Pendekatan sastra bandingan didefinisikan sebagai “kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara, dewasa ini membuat studi sastra maju beberapa langkah. Dikatakan demikian karena telaah sastra bandingan diam-diam telah menumbuhkan kesadaran tentang betapa pentingnya memetakan hubungan kebudayaan di antara bangsa-bangsa dan negara di dunia yang dalam hal ini terepresentasikan dalam karya sastra. Terlepas dari segala kerumitannya, telaah sastra bandingan yang bersifat diakronis. Suka atau tidak sukapun telah mementahkan pandangan atas kemumpunian dan “keilmiahan” telaah sastra sinkronis yang berakar pada konsep linguistik struktural-nya Ferdinand de Saussure. (Remak, 2005: 2 dalam Djoko Damono)
Begitu banyak karya sastra yang pernah ditulis mengenai cinta. Sejak pertama kali manusia bisa menuangkan pikiran-pikiran dan perasaannya ke dalam lembaran-lembaran kertas, para pujangga di seluruh penjuru dunia telah mengukir syair-syair pujian mengenai kebahagiaan dan kesedihan akibat cinta. Di antara karya-karya tersebut, tentunya yang paling populer di seluruh dunia ialah drama Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Sekalipun dianggap paling populer di dunia, Romeo dan Juliet bukanlah satu-satunya kisah cinta yang dramatis; dalam kesusastraan Arab-Persia pun terdapat kisah serupa: Laila Majnun, syair gubahan Syaikh Nizami Ganjavi yang didasarkan pada legenda masyarakat Badui di jazirah Arab. Selama lebih dari seribu tahun beragam versi dari kisah tragis yang kehadirannya mendahului Romeo dan Juliet ini muncul dalam bentuk prosa, puisi, dan lagu dalam hampir semua bahasa di negara-negara Islam Timur Dekat.  (Turner, 2007: 7).
Itulah sebabnya, selain ada Romeo dan Juliet di Eropa serta Laila Majnun di Arab-Persia, tidak terkecuali, di Pulau Jawa pun ada kisah tentang Rara Mendut dan Pranacitra. Seperti halnya Laila Majnun, kisah tentang kemuliaan cinta, kesetiaan, dan pengorbanan yang didasarkan pada mitos yang sejak berabad-abad lalu beredar dalam masyarakat Jawa ini telah melahirkan beberapa versi serta ditransformasikan ke dalam cabang kesenian lain-Langendriya, ketoprak, tari kontemporer, film, bahkan sinetron. Dalam wujud novel, misalnya, cerita tentang Roro Mendut-Pronocitro yang amat populer di Indonesia dan acapkali disejajarkan dengan Romeo dan Juliet sekurang-kurangnya telah melahirkan dua versi dari dua pengarang dengan latar belakang kultur berbeda-Ajip Rosidi (Sunda) dan Y.B. Mangunwijaya (Jawa).
Cerita tentang Sangkuriang mungkin hanya dikenal dalam wilayah geografis yang lebih terbatas bila dibandingkan dengan Oedipus. Meskipun demikian, menelaah dan membandingkan keduanya tetap saja penting. Untuk itu, dalam telaah sederhana ini akan digunakan cerita Sangkuriang dan cerita Oedipus sebagai objek bandingan. Paling tidak, ada dua segi menarik yang bisa dilihat dalam kedua karya penulis ini. Pertama, cerita Sangkuriang dan cerita Oedipus sebagaimana telah disebutkan, bukanlah karya “asli” karena keduanya berangkat dari cerita rakyat terkenal milik masyarakat pendukungnya; kedua, sama-sama mempunyai latar belakang kehidupan spiritual yang khusus.
Cerita Sangkuriang ditulis berdasarkan cerita rakyat yang telah berabad-abad dikenal oleh masyarakat Jawa. Biarpun sebagai orang Jawa memiliki pengetahuan yang luas tentang mitos Sangkuriang dalam proses penulisan novel ini, Ia juga memanfaatkan hasil studinya yang intens terhadap Babad Tanah Jawi, dokumen-dokumen duta besar VOC, Rijckloff van Goens, dan data-data sejarah lainnya. Hal ini sengaja dilakukan terutama untuk “mempertanggungjawabkan” segi-segi historis novel yang pernah memperoleh penghargaan ini.
Pada kebanyakan masyarakat Jawa sudah menjadi sebuah “keniscayaan” bahwa kisah hidup Sangkuriang, yang diyakini pernah ada dan hidup pada masa kekuasaan Sultan Agung di Mataram (abad ke-17).
Oedipus Rex karya Sopochles ini dibuka dengan adegan di mana para rakyat yang dirundung suatu wabah penyakit mengiba-iba, memohon bantuan pada rajanya, Oedipus.  Oedipus menjawab permohonan para rakyat dan memanggil seorang orakel (dukun/ peramal Yunani kuno) untuk memecahkan masalah ini. Akhirnya diketahui bahwa wabah penyakit itu disebabkan oleh Oedipus sendiri.  Gejala-gejala alam yang aneh dan wabah penyakit yang menyebar itu terjadi karena Oedipus telah menikahi ibunya sendiri.  Oedipus tidak memercayai jawaban sang orakel, dan justru menuduh Kreon (saudara iparnya) yang mengakibatkan bencana ini, karena hendak merebut tahta Oedipus. Namun, akhirnya Oedipus menyadari bahwa ternyata ramalan sang Orakel memang benar, dan ia memang benar-benar menikahi ibunya dan membunuh ayahnya sendiri, walaupun ada unsur ketidaksengajaan.  
Laius, ayah kandung Oedipus, telah diberi ramalan bahwa ia akan dibunuh oleh anaknya sendiri. Mengetahui hal itu, ia segera membuang Oedipus ke tengah padang pasir, dengan kedua kakinya dijepit, berharap agar Oedipussegera mati. Namun,seorang penggembala berhasil menemukan Oedipus dan membesarkannya bagaikan ia membesarkan anaknya sendiri.  Saat Oedipus beranjak remaja, ia mendengar ramalan bahwa ia akan membunuh ayahya dan menikahi ibunya sendiri. Untuk mencegah hal itu ia pun memutuskan untuk meninggalkan kedua orang tua angkatnya,dan pergi ke Korintus (tempat di mana kedua orang tua aslinya berada).  Di tengah jalan, ia bertemu dengan ayahnya yang asli, Laius, dan berselisih paham tentang siapa yang harus mengalah dan memberikan jalan.  Perselisihan itu berlanjut dengan baku hantam, dan Oedipus yang tidak mengetahui identitas Laius, membunuhnya tanpa ampun.  Ia pun melanjutkan perjalanan ke Thebes, dimana ia bertemu dengan monster yang ditakuti setiap orang bernama Sphinx.  Oedipus berhasil membunuh Sphinx (dengan menjawab pertanyaan sang monster), dan rakyat Thebes pun segera mengangkatnya menjadi raja baru.  Tak lama kemudian, ia pun menikahi Iocasta (Jocasta-versi Inggris), sang ratu, yang tak lain adalah ibunya sendiri.
Saat Iocasta mengetahui hal ini, ia pun langsung bunuh diri.  Saat Oedipus menyadari betapa butanya dirinya atas semua fakta, ia pun memutuskan untuk membutakan kedua matanya, dan segera meninggalkan Korintus bersama putrinya, Antigone.  Drama ini tidak bertujuan untuk mengisahkan tentang tragedi kehidupan seseorang, namun menunjukkan bahwa manusia tak akan pernah menang melawan takdir.  Semakin besar usaha Oedipus lari dari takdirnya, semakin dekatlah ia pada garis yang telah diatur oleh sang pencipta.  Bangsa Yunani selalu menekankan bahwa manusia akan selalu kalah, sedangkan para dewa akan selalu menang.  Namun drama ini juga menceritakan bahwa tak hanya para dewa yang dapat menghancurkan hidup seorang manusia, namun sang manusia juga dapat melakukannya sendiri.  
Dalam drama Oedipus Rec, paduan suara merefleksikan ciri khas paduan suara yang terdapat dalam drama-drama tragedi Yunani.  Mereka dapat berada dalam sudut pandang penonton, sekaligus saksi dan komentator dalam segala kejadian yang berlangsung pada drama.  Paduan suara itu adalah suara para penonton yang merefleksikan keterkejutan, kecemasan, dan rasa kasihan yang dirasakan oleh tokoh utama.  Dalam drama tragedi, paduan suara sering digunakan untuk menyanyikan puji-pujian pada tokoh tertentu, memberi eksposisi adegan-adegan penting sebelum drama dimulai, dan untuk mengisi pergantian adegan.
Oedipus Rex menggambarkan sosok pahlawan Yunani kuno, baik dari segi fisik maupun akal. Ia berhasil mengalahkan kekuatan raja Laius, memecahkan teka-teki Sphinx, namun semua kelebihannya itu justru membawanya pada takdir yang kelam.
Hampir sama dengan cerita oedipus, cerita sangkuriang ditulis tiga abad sesudah cerita rakyat itu berkembang dalam masyarakat pendukungnya. Jadi, pada waktu menulis kedua karya tersebut, menghadapi situasi yang sama di mana zaman dan kebudayaan ketika mereka menulis karya itu amat berbeda dengan zaman dan kebudayaan ketika cerita babonnya mulai dikenal. Itulah sebabnya, cerita sangkuriang juga memasukkan unsur-unsur tradisi sastra baru dalam model penggunaan bahasa, penggarapan struktur, atau pengayaan gagasan.
Yang berbeda barangkali dalam segi motif menulis. Jika menulis karyanya semata-mata untuk menunjukkan loyalitasnya kepada sang raja, maka Mangunwijaya menulis cerita sangkuriang tanpa didesak oleh keinginan siapa pun. Ia menulis novel tersebut atas kesadarannya sendiri yang, boleh jadi, didasari oleh niat ingin  menggugah pikiran sebagian orang Jawa yang masih terlalu terikat pada mitos-mitos. Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam tradisi pemikiran Barat yang identik dengan kritisisme, Mangunwijaya dalam novel tersebut mencoba melakukan demitifikasi terhadap tokoh-tokohnya. Misalnya, sosok Dayang Sumbi yang selama ini oleh masyarakat Jawa telanjur dicitrakan sebagai perempuan yang cantik tiada tara, lembut, tetapi sekaligus bersikap fatalis, dibuatnya menjadi “manusia biasa”. Gambaran kecantikannya yang semula amat fisikal digesernya ke inner beauty; kelembutan dan sikap fatalisnya yang susah berubah dirombaknya menjadi perkasa dan bersemangat perlawanan.
Selain itu, inilah yang menarik, sebagai orang yang juga hidup dalam lingkungan keagamaan, dan mencoba mendekonstruksi wacana yang bertalian dengan  proses kematian sang tokoh utama. Jika dalam mitos orang Jawa kematian ayah Sangkuriang diyakini karena telah dibunuh oleh anaknya sendiri, maka dalam novel versinya justru kematian itu disebabkan oleh tindakan yang amat “ksatria”. Jadi, berdasarkan logika dan kesadaran religusitasnya, saat itu Sangkuriang tentu sudah menyerap nilai-nilai keislaman, dan salah satu dari nilai itu ialah larangan keras kepada setiap penganutnya untuk melakukan pernikahan terlarang yang masih mempunyai hubungan sedarah, dalam hal ini termasuk pernikahan antara Dayang Sumbi dan Sangkuriang atau pernikahan antara seorang anak dan ibu. Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.
Demikianlah, dengan kesamaan latar belakang kehidupan religiusitasnya, Oedipus dan Sangkuriang berhasil membangun kisah yang sebelumnya telah ada dalam masyarakat. Dengan perspektif kesufiannya, Oedipus berhasil melukiskan wilayah kejiwaan yang berhubungan dengan kompleksitas emosi manusia ketika dihadapkan pada “pernikahan terlarang”, cahaya yang dibawa oleh hati yang sedang jatuh cinta, gairah dari rasa kasih sayang, duka akibat perpisahan, kepedihan akibat kesangsian dan kecemburuan, pahitnya cinta yang dikhianati, dan kesedihan yang ditimbulkan oleh kehilangan. Sementara itu, dengan cara berpikir modern tanpa  melupakan pentingnya religiusitas.

C.       PENUTUP
Dilihat dari unsur-unsur kisahannya, Oedipus dan cerita sangkuriang menampakkan perbedaan yang amat signifikan. Dalam segi bangun struktur, misalnya, kisah Oedipus  tidaklah menampilkan kompleksitas yang canggih; plot begitu linear, penokohan cenderung stereotip, dan latar apa adanya. Namun, lain halnya Sangkuriang. Berkat perkembangan konvensi sastra pada zamannya, penggarapan unsur-unsur tersebut jauh lebih kompleks.
Terlepas dari itu semua, kiranya menarik untuk disinggung ihwal konflik yang menggerakkan kedua cerita. Nasib Oedipus dan sangkuriang memang sama-sama nahas, kedua cerita tersebut mengalami kisah yang tragis akibat pernikahan terlarang.  Namun, jika pernikahan terlarang itu dilatarbelakangi oleh konflik mereka dengan adat dalam masyarakat.
Telaah bandingan karya sastra dalam konteks pemahaman kebudayaan lintas bangsa amat penting dewasa ini. Lewat telaah semacam itu, dapat dipahami berbagai aspek kebudayaan setiap bangsa baik yang tersurat maupun tersiratdi dalamnya. Telaah sederhana ini cukup membuktikan hal itu. Memang, mengingat karya sastra yang serupa dengan cerita sangkuriang bukan hanya oedipus, sebetulnya akan lebih baik jika telaah ini melibatkan pula karya lainnya.








DAFTAR PUSTAKA
Sapardi Djoko Damono. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
http://matadayeuh.wordpress.com, diakses 10 Mei 2009.
http://pendekarjawa.wordpress.com, diakses 10 Mei 2009.





0 komentar:

Poskan Komentar

About This Blog

Berlangganan via Email

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP